Senin, 14 Januari 2013

Budidaya Ikan Mas Koki


Ikan mas koki yang memiliki nama dagang goldfish merupakan ikan yang berasal dari Cina. Ikan ini bersifat omnivora dan dapat hidup baik pada suhu 19-28 0 C dengan suhu optimal 24-28 C. Kisaran pH yang diinginkan antara 7.0-7.5. Ikan mas koki memiliki fekunditas antara 2000-4000 butir telur. Ikan ini memiliki warna serta bentuk tubuh yang indah dan unik sehingga banyak diminati oleh konsumen ikan hias baik itu konsumen lokal maupun mancanegara.
Ciri-ciri ikan mas koki secara umum antara lain sebagai berikut :
  • Bentuk utubuh umumnya pendek/bulat, gempal dan berukuran relatif kecil (lebih kecil dari ikan mas biasa).
  • Kepala pada umumnya kecil dengan berbagai bentuk sesuai dengan jenisnya. Namun demikian pada beberpa jenis di bagian atas kepala dan pipinya ditutupi oleh selaput/daging yang menebal sehingga kelihatan seperti singa.
  • Sisiknya mengkilap dan tersusun berderet dengan rapi menutupi tubuh. Warna sisik sangat indah dan bervariasi, ada yang hitam, kuning, merah dan putih kuning tergantung pigmen.
  • Sirip ekor umumnya lebar dan ada juga yang berumbai. Sedangkan sirip perut dan sirip dada bersama gelembung udara berperan sebagai pengatur gerakan naik turunnya ikan dalam media air.
Varietasnya berkembang menjadi sangat banyak  akibat silangan berbagai warna dan bentuk badan. Namun, hanya ada dua kelompok besar ikan mas koki, yaitu memiliki dua sirip ekor dan satu sirip ekor. Ikan bersirip dua buah pun masih bisa dibagi atas ikan bersirip punggung seperti koki spenser, raket, mutiara, dan tossa serta ikan tidak bersirip punggung seperti ranchu, kumpai dan mata balon.

3.15.1 Pemeliharaan Induk

Proses pembenihan dimulai dari pemeliharaan induk untuk mencapai kematangan gonad, kemudian dilanjutkan dengan proses pemijahan, penetasan, pemeliharaan larva hingga pendederan. Pemeliharaan induk diawali dengan seleksi induk. Induk yang berkualitas memiliki ciri-ciri antara lain tidak cacat, sehat, tampak aktif, bentuknya proporsional, ukurannya terbesar diantara kelompok umurnya, dan berumur lebih dari lima bulan. Induk ikan mas koki dapat dibedakan antara jantan dengan betina berdasarkan tanda-tanda pada tubuhnya (Tabel 3.1).
Tabel 3.1. Perbedaan Induk Jantan dan Induk Betina pada Ikan Mas Koki
Bagian yang diamatiIkan JantanIkan Betina
1. Sirip dadaTerdapat bintik-bintik bulat menonjol dan terasa kasar bila diraba.Tidak terdapat bintik-bintik bulat menonjol dan terasa halus bila diraba.
2. Bentuk anusOval dan halus.Bulat dan kasar.
3. Bentuk  badanPada ukuran induk, badan lebih langsing.Pada ukuran induk, badan lebih gemuk dan membulat.
Sebelum dipijahkan, sebaiknya induk jantan dan betina dipisahkan terlebih dahulu dan dipelihara sekitar 2 minggu. Pemeliharan induk ini sebaiknya dilakukan di dalam kolam dengan kepadatan yang rendah, sekitar 20 ekor/m2. Pakannya dapat berupa pelet, cacing rambut ataupun cacing darah. Agar kualitas telur menjadi baik, jentik nyamuk akan lebih baik dijadikan sebagai pakan induk. Pakan alami lebih baik digunakan karena memiliki kandungan nutrisi yang lebih lengkap daripada pakan buatan.

3.15.2 Pemijahan

Setelah sudah siap berpijah barulah kedua induk ini dapat dipelihara bersama. Tanda induk yang siap berpijah adalah perut akan terasa lembek dan lembut bila diraba. Bahkan jika ditekan sedikit akan keluar telur (betina) dan keluar cairan putih susu/sperma untuk induk jantan.
Tempat pemijahan mas koki berupa bak fiber atau kolam. Ukurannya tergantung pada jumlah induk ikan yang akan digunakan. Bila hanya sepasang induk, kolam berukuran cm dapat digunakan. Bila pemijahan dilakukan secara masal dengan induk 2-5 pasang, paling tidak ukuran kolamnya m.
Pemijahan akan lebih baik jika perbandingan antara jantan dan betina 2 : 1, baik untuk pemijahan sepasang ataupun masal. Ini dilakukan agar telur dapat terbuahi seluruhnya. Kedalaman air sebaiknya 15-20 cm. -Ke dalam wadah dapat diberikan substrat berupa enceng gondok muda yang sudah dibersihkan terlebih dahulu.
Pemijahan biasanya terjadi pada malam hari atau dini hari. Bila sarangnya dipasang pada sore hari, maka telurnya dapat dilihat pada pagi hari berikutnya. Namun, kalau belum mau memijah, airnya dapat diganti setengahnya agar induk terangsang untuk memijah. Jumlah telur mas koki sangat banyak. Setiap induk betina dapat menghasilkan 2000-4000 butir telur.
3.15.3 Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva/Benih
Telur yang ada di enceng gondok dapat dipindahkan ke dalam wadah penetasan. Bisa juga bukan telurnya yang dipindahkan tetapi induknya. Perlakuan pemindahan induk akan lebih baik dilakukan dibanding pemindahan telur, karena telur lebih sensitif dan dapat menyebabkan telur berserakan ke dasar perairan.
Telur-telur tersebut biasanya akan menetas setelah tiga hari keluar dari induknya asalkan tidak terkena hujan dan mendapat cukup sinar matahari. Telur akan menetas menjadi larva ikan dan larva akan mulai berenang setelah seminggu menetas. Pada saat larva mulai menetas, enceng gondok dapat dikeluarkan dari wadah penetasan. Selanjutnya air dapat mulai dialirkan ke dalam wadah  atau diganti setengahnya.
Pada umur seminggu larva ikan mas koki sudah dapat diberi makanan berupa tetasan telur Artemia atau infusoria. Dua atau tiga hari kemudian larva dapat diberiDaphnia/kutu air saring. Sesudah agak besar (sekitar dua minggu) ikan dapat diberi cacing rambut dan pelet. Umur 3-4 minggu, kegiatan penjarangan dapat dilakukan. Frekuensi tingkat pemberian pakan 3 kali sehari.
Pembesaran ikan mas koki umumnya dilakukan di kolam yang agak luas, sekitar 1.5-1.5 m. Ketinggian air minimal 25 cm dengan kepadatan ikan  sekitar 30-40 ekor/m2. Pemberian pakan berupa pakan alami seperti Daphnia (kutu air) dengan frekuensi pemberian pakan 2-3 kali sehari. Untuk menjaga kualitas air, minimal 2-3 hari sekali dilakukan penyiphonan/ganti air sebanyak 1/3 volume air.
Pembesaran ikan mas koki dilakukan hingga ukuran 5 cm (seukuran diameter telur ayam). Waktu yang diperlukan kurang lebih 3-4 bulan. Persentase kelangsungan hidup (survival rate) antara 80-90 %. Selama pemeliharaan, kolam sebaiknya tersinari oleh cahaya matahari. Hal ini dapat memacu munculnya pola warna yang cerah pada tubuh ikan.
 SUMBER :
taufikbudhipramono.blog.unsoed.ac.id/2011/05/12/teknologi-budidaya-ikan-hias-3/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar